penulis : Samali Hendi Hendra-Puspita Sari-Emmy Pancawati-Subianto
Nama Jurnal: vol 03 No 1
Waktu Terbit : 2016-11-15
File : Tidak Ada File
Abstrak :

 

PENGARUH BIAYA PRODUKSI DAN PENJUALAN AIR BERSIH TERHADAP LABA KOTOR PADA PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM (PDAM)

TIRTA BUKIT SULAP KOTA LUBUKLINGGAU

 

Samali Hendi Hendra¹

Puspita Sari²

Emmy Pancawati³

Subianto4

 

PROGRAM STUDI AKUNTANSI, FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS MUSI RAWAS

 

 

INTISARI

 

Laba kotor Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau dipengaruhi oleh unsur pendapatan dan biaya produksi. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh biaya produksi dan penjualan air bersih secara parsial maupun secara bersama-sama terhadap laba kotor pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau.

 

Penelitian ini menggunakan teknik penentuan sampel purposive sampling.Jenis data yang digunakan yaitu data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Uji koefisen Regresi linear berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh biaya produksi dan penjualan air bersih secara parsial maupun secara bersama-sama terhadap laba kotor. Analisis regresi linear berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat.

Hasil penelitian ini menunjukkan menunjukan bahwa biaya produksi berpengaruh secara parsial terhadap laba kotor pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau, dan penjualan air bersih secara parsial tidak berpengaruh terhadap laba kotor pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau. Secara simultan(bersama-sama) biaya produksi dan penjualan air bersih tidak berpengaruh signifikan terhadap laba kotor pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau. Nilai Koefisien Determinan (R2) yaitu 92,8% artinya laba kotor dapat dijelaskan oleh biaya produksi dan penjualan air bersih, dan 7,2% laba kotor tidak dapat dijelaskan oleh biaya produksi dan penjualan air bersih.

 

 

I.     PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang Penelitian

Menurut Firmansyah Imam (2013: 31), biaya produksi merupakan biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi bahan jadi dan biaya yang berkaitan dengan pembuatan barang dan penyediaan jasa. Biaya produksi diklasifikasikan lebih lanjut sebagai biaya bahan langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik yang dapat dibebankan ke produk untuk pelaporan keuangan eksternal. Biaya nonproduksi merupakan biaya yang terjadi atau dikeluarkan untuk bahan pelengkap atau pembantu, seperti biaya administrasi umum dan biaya penjualan atau biaya pemasaran.

Menurut Fahmi Irham (2012: 99), penjualan merupakan penerimaan yang diperoleh dari pengiriman barang dagangan atau jasa yang dijual, baik dalam unit ataupun dalam rupiah. Secara umum penjualan pada dasarnya terdiri dari dua jenis yaitu penjualan tunai dan kredit. Penjualan tunai terjadi apabila penyerahan barang atau jasa segera diikuti dengan pembayaran dari pembelian, sedangkan penjualan kredit ada tenggang waktu antara saat penyerahan barang atau jasa dalam penerimaan pembelian.

Laporan keuangan menunjukan kondisi keuangan perusahaan pada saat ini atau dalam suatu periode tertentu. Laporan keuangan merupakan hasil akhir dari proses akuntansi, dan tujuan utamanya adalah untuk menyajikan rincian informasi tentang keadaan kinerja keuangan sebuah perusahaan yang sangat bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. Laporan

keuangan penting karena laporan ini objektif dan mengukur serta menyajikan konsekuensi ekonomis suatu aktivitas usaha. Laporan keuangan menyajikan informasi mengenai posisi keuangan perusahaan serta hasil usaha perusahaan kepada para pemakai data keuangan perusahaan pada waktu tertentu. Informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan akan menjadi lebih mudah dipahami dan menjadi lebih berguna apabila laporan keuangan tersebut dianalisis. Analisis terhadap laporan keuangan dilakukan untuk menilai apakah perusahaan telah beroperasi secara efektif dan efisien. Analisis terhadap laporan keuangan juga memberikan sumbangan kepada pihak manajemen dalam pengambilan keputusan, dan keputusan ini akan mempengaruhi pihak manajemen dalam menyusun perencanaan perusahaan selanjutnya dalam usaha pencapaian tujuan utama perusahaan yaitu mencari laba yang optimal.

Menurut Kasmir (2012: 45), laporan laba rugi merupakan laporan yang menunjukan jumlah pendapatan atau penghasilan yang diperoleh dan biaya-biaya yang dikeluarkan dan laba rugi dalam suatu periode tertentu. Laporan laba rugi merupakan salah satu laporan keuangan yang menunjukan hasil yang telah dicapai oleh perusahaan melalui laba atau rugi yang dihasilkan oleh perusahaan. Laba yang dihasilkan dari operasi perusahaan dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan perusahaan. Karena laba merupakan salah satu tolak ukur berhasil tidaknya suatu perusahaan dapat dilihat dari tingkat keuntungan yang diperoleh perusahaan tersebut. Hal yang paling penting dalam laporan keuangan adalah laporan laba rugi dan neraca. Laporan laba rugi menunjukan pendapatan, biaya, dan laba ditahan selama periode tertentu (seperti triwulan atau tahunan), dan neraca menunjukan nilai buku dari semua aktiva, kewajiban, dan ekuitas pada waktu tertentu.

Perusahaan memiliki kewenangan untuk melaporkan laba yang tinggi pada laporan laba rugi padahal menurut laporan neraca keuangan perusahaan sangat lemah. Perusahaan juga memiliki kewenangan untuk menyajikan laba yang rendah atau malah merugi pada laporan laba rugi padahal menurut laporan neraca keuangan perusahaan sangat kuat. Karena adanya dua pernyataan laporan yang berbeda karakteristiknya, laporan keuangan harus dianalisis lebih lanjut untuk melakukan evaluasi yang menyeluruh. Analisis ini dapat mempertajam informasi yang disajikan oleh laporan keuangan, sehingga dapat memberikan informasi untuk diagnosa, evaluasi, dan predeksi keadaan ekonomi perusahaan.

Menurut Bustami dan Nurlela (2009: 113), laba kotor atau marjin kotor merupakan total penjualan dikurangi harga pokok penjualan. Analisis laba kotor adalah memecah-mecah atau membagi menjadi bagian-bagian atau elemen- elemen yang lebih kecil dengan tujuan untuk menentukan penyebab terjadinya penyimpanan atau selisih laba kotor dan untuk mengetahui hubungan antara elemen-elemen tersebut

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau adalah perusahaan milik Pemerintah Kota Lubuklinggau yang melakukan usaha dibidang produksi dan penyaluran air bersih.

Perkembangan laba kotor Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau untuk periode akuntansi tahun 2008 s/d 2012 sebagai berikut:

 

Tabel 1.1.

Perkembangan Laba Kotor Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta

Bukit Sulap Kota Lubuklinggau
(Dalam Jutaan Rupiah)

Tahun

2008

2009

2010

2011

2012

Laba Kotor

3.474

962

757

1.171

1.065

Perubahan

-

2.512

205

(414)

106

 

Sumber: PDAM Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau (data hasil olah peneliti)

 

 

 

Berdasarkan perkembangan laba kotor Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau diatas, permintaan berbagai kelompok masyarakat Kota Lubuklinggau dan sekitarnya terhadap air bersih mengalami perubahan yang tidak stabil dari tahun ke tahun. Kondisi ini mendorong jumlah pendapatan usaha Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau mengalami perubahan. Kondisi ini juga mendorong perubahan dalam laba kotor Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) setiap tahun mengalami penurunan maupun kenaikan yang berbeda-beda.

Laba kotor Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau dipengaruhi oleh unsur pendapatan dan biaya produksi. Unsur pendapatan terdiri atas penjualan air bersih, dan unsur biaya produksi terdiri atas biaya bahan langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya produksi tak langsung (biaya overhead pabrik). Adanya pengaruh dari unsur-unsur tersebut memberi pengertian bahwa perubahan pada unsur-unsur tersebut dapat mengakibatkan pula perubahan pada laba kotornya. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka permasalahan yang ingin penulis ajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Bagaimanakah pengaruh biaya produksi air bersih secara parsial terhadap laba kotor pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau, bagaimanakah pengaruh penjualan air bersih secara parsial terhadap laba kotor pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau dan bagaimanakah biaya produksi dan penjualan air bersih secara bersama-sama terhadap laba kotor pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau. Batasan masalah yang akan diteliti yaitu biaya produksi, penjualan air bersih, dan laba kotor pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau dari tahun 2008 s/d 2012.

 

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1.    Teori Yang Berkenaan Dengan Variabel Yang Diambil 2.1.1 Pengertian Biaya Produksi

Menurut Firmansyah Imam (2013: 31), biaya produksi adalah biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi bahan jadi. Pengertian lainnya menjelaskan bahwa biaya produksi merupakan biaya yang dibebankan dalam proses produksi selama satu periode. Biaya ini terdiri atas persediaan barang dalam proses awal, ditambah biaya pabrikasi (manufacturing cost),kemudian dikurangi dengan persediaan barang dalam proses akhir. Misalnya, biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik.

Menurut Nurlela dan Bustami (2010: 12), biaya produksi adalah biaya yang digunakan dalam proses produksi yang terdiri dari bahan baku langsung, tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik. Biaya produksi ini disebut juga dengan biaya produk yaitu biaya-biaya yang dapat dihubungkan dengan suatu produk dimana biaya ini merupakan bagian dari persediaan .

Dari beberapa uraian diatas, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa biaya produksi adalah biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi bahan jadi dan biaya yang berkaitan dengan pembuatan barang dan penyediaan jasa yang terdiri dari bahan baku langsung, tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik.

 

2.1.2.     Unsur-unsur dan Pencatatan Biaya Produksi

1.    Biaya Bahan Langsung

Menurut Firmansyah Imam (2013: 31), biaya bahan langsung adalah semua bahan untuk membentuk suatu kesatuan yang tidak dipisahkan dari barang jadi dan dapat langsung diperhitungkan dalam harga pokok produksi, seperti kertas pada percetakan, benang pada tekstil, dan tanah liat pada batu bata.

2.     Biaya Tenaga Kerja Langsung

Menurut Firmansyah Imam (2013: 31), biaya tenaga kerja langsung adalah upah untuk para pekerja yang secara langsung membuat produk dan jasanya dapat langsung diperhitungkan ke dalam harga pokok produk, seperti upah tukang.

3.     Biaya Produksi Tak Langsung (Biaya Overhead Pabrik)

Menurut Firmansyah Imam (2013: 31), biaya produksi tak langsung adalah biaya selain biaya bahan langsung dan biaya tenaga kerja langsung yang terjadi di pabrik. Biaya ini lazim disebut biaya overhead pabrik (BOP), dikelompokan menjadi biaya-biaya berikut :

a.     Biaya bahan penolong, bahan yang diperlukan untuk pembuatan produk dan penggunaannya relatif kecil.

b.     Biaya tenaga kerja tak langsung, upah untuk tenaga kerja yang secara tidak langsung berhubungan dengan pembuatan produksi.

c.     Biaya produksi tak langsung lainnya, seperti biaya penyusutan mesin, asuransi, dan perlengkapan mesin.

Menurut Firmansyah Imam (2013: 32), biaya nonproduksi adalah biaya yang terjadi atau dikeluarkan untuk bahan pelengkap atau pembantu, seperti biaya administrasi umum dan biaya penjualan atau biaya pemasaran. Penjelasan lain menyebutkan biaya untuk bahan-bahan yang dipakai dalam proses produksi, tetapi tidak dapat diidentifikasikan secara langsung dengan barang jadi yang dihasilkan. Beban administrasi, umum, dan penjualan adalah contoh biaya nonproduksi utama yang ditampilkan dalam laporan laba rugi.

Menurut Firmansyah Imam (2013: 32), beban administrasi, umum, dan penjualan terdiri atas biaya gabungan dari operasi perusahaan, yang termasuk ke dalam aspek berikut:

a.    Penjualan: beban pokok penjualan yang termasuk gaji, biaya iklan, biaya manufaktur, sewa, semua biaya dan pajak secara langsung berhubungan dengan produksi dan penjualan produk.

b.    Umum: beban usaha umum dan pajak yang secara langsung berhubungan dengan operasi umun perusahaan, tetapi tidak berkaitan dengan dua kategori lainnya.

c.     Administrasi: gaji eksekutif dan pendukung lainnya serta semua pajak yang berkaitan dengan administrasi perusahaan secara kelangsungan.

 

2.1.3.    Pengertian Penjualan

Menurut Fahmi Irham (2012: 99), penjualan (sales)merupakan penerimaan yang diperoleh dari pengiriman barang dagangan atau dari penyerahan pelayanan dalam bursa sebagai bahan pertimbangan.

Menurut Kasmir (2012: 305), penjualan maksudnya adalah jumlah omzet barang atau jasa yang dijual, baik dalam unit ataupun dalam rupiah. Besar kecilnya penjualan ini penting bagi perusahaan sebagai data awal dalam melakukan analisis.

Penjualan (sales)merupakan penerimaan yang diperoleh dari pengiriman barang dagangan atau jasa yang dijual, baik dalam unit ataupun dalam rupiah untuk dijual kembali kepada konsumen secara kredit maupun tunai. Jadi secara umum penjualan pada dasarnya terdiri dari dua jenis yaitu penjualan tunai dan kredit. Penjualan tunai terjadi apabila penyerahan barang atau jasa segera diikuti dengan pembayaran dari pembelian, sedangkan penjualan kredit ada tenggang waktu antara saat penyerahan barang atau jasa dalam penerimaan pembelian.

 

2.1.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penjualan

Menurut Kasmir (2012: 305), penjualan dipengaruhi oleh:

1.   Faktor Harga Jual

Harga jual adalah harga persatuan atau unit atau per kilogram atau lainnya produk yang dijual dipasaran. Penyebab berubahnya harga jual adalah perubahan nilai harga jual persatuan. Dalam kondisi tertentu, harga jual dapat naik, tetapi dapat pula turun. Perubahan inilah yang menjadi penyebab perubahan laba kotor dari waktu ke waktu.

2.    Faktor Jumlah Barang Yang Dijual

Jumlah barang yang dijual maksudnya adalah banyaknya kuantitas atau jumlah barang (volume) yang dijual dalam suatu periode. Sudah pasti jika barang yang dijual dengan kuantitas yang lebih banyak, juga akan mempengaruhi peningkatan laba kotor. Demikian pula sebaliknya apabila kuantitas barang yang dijual sedikit, tentu kemungkinan akan terjadi penurunan penjualan.

 

2.1.5.    Pengertian Laba Kotor

Menurut Bustami dan Nurlela (2009 : 113), laba kotor atau margin kotor adalah total penjualan dikurangi harga pokok penjualan. Analisis laba kotor adalah memecah-mecah atau membagi menjadi bagian-bagian atau elemen- elemen yang lebih kecil lagi dengan tujuan untuk menentukan penyebab terjadinya penyimpanan atau selisih laba kotor dan untuk mengetahui hubungan antara elemen-elemen atau faktor tersebut.

Menurut Kasmir (2012 : 303), laba kotor adalah laba yang diperoleh sebelum dikurangi biaya-biaya yang menjadi beban perusahaan. Artinya laba keseluruhan yang pertama sekali perusahaan peroleh. Sementara itu, laba bersih merupkan laba yang telah dikurangi biaya-biaya yang merupakan beban perusahaan dalam suatu periode tertentu, termasuk pajak.

Dari beberapa uraian diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa laba kotor atau marjinkotor adalah total penjualan dikurangi harga pokok penjualan atau laba yang diperoleh sebelum biaya-biaya yang menjadi beban perusahaan. Artinya laba keseluruhan yang pertama sekali perusahaan peroleh.

 

2.1.6.    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Laba Kotor

Menurut Kasmir (2012 : 305), dalam praktiknya perubahan yang terjadi laba kotor disebabkan dua faktor, yaitu:

1.   Faktor Penjualan

Penjualan maksudnya adalah jumlah omzet barang atau jasa yang dijual, baik dalam unit ataupun dalam rupiah. Besar kecilnya penjualan ini penting bagi perusahaan sebagai data awal dalam melakukan analisis.

2.    Faktor Harga Pokok Penjualan

Harga pokok penjualan adalah harga barang atau jasa sebagai bahan baku atau jasa untuk menjadi barang dengan ditambah biaya-biaya yang berkaitan dengan harga pokok penjualan tersebut. Harga pokok penjualan ini penting sebagai dasar untuk menentukan harga jual ke konsumen. Harga pokok penjualan dipengaruhi oleh harga pokok rata-rata dan jumlah barang yang dijual. Apabila harga pokok rata-rata naik, laba kotor dapat turun, demikian sebaliknya. Apabila jumlah penjualan turun, kemungkinan laba kotor pun akan ikut turun pula.

Menurut Kasmir (2012: 307), dapat disimpulkan bahwa perubahan laba kotor disebabkan tiga faktor berikut ini:

1.   Berubahnya Harga Jual

Artinya, berubah harga jual yang dianggarkan dengan harga jual pada periode sebelumnya. Misalnya harga jual yang ditetapkan sebelumnya Rp100,00 per unit dinaikkan menjadi Rp110,00 per unit atau sebaliknya karena berbagai sebab harga jual justru diturunkan. Perubahan ini jelas akan berdampak terhadap perolehan dari nilai jual tersebut.

2.    Berubahnya Jumlah Kuantitas (Volume)Barang Yang Dijual

Artinya, perubahan jumlah barang yang dijual dari jumlah yang dianggarkan dengan jumlah periode sebelum. Misalnya, dari jumlah yang ditargetkan terjual 1.000 unit, namun hanya terjual 900 unit atau sebaliknya naik menjadi 1.100 unit jelas akan mengakibatkan perubahan peroleh dari nilai jual tersebut.

3.    Berubahnya Harga Pokok Penjualan

Maksudnya perubahan harga pokok penjualan dari yang dianggarkan dengan harga pokok penjualan pada periode sebelum. Perubahan ini mungkin disebabkan karena adanya kenaikan harga pokok penjualan dari sumber utamanya, misalnya kenaikan atau penurunan harga bahan baku atau kenaikan dari biaya-biaya yang dibebankan dari sebelumnya.

 

Menurut Kasmir (2012: 308), harga pokok penjualan suatu produk banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor harga bahan baku, upah tenaga kerja, serta kenaikan harga secara umum. Faktor lainnya yang juga perlu dicermati adalah adanya ketidakefisienan didalam memproduksi barang atu jasa atau menjual barang yang berakibat terjadinya pemborosan.

 

2.1.7.    Pengertian Laporan Laba Rugi

Menurut Kasmir (2012: 45), laporan laba rugi merupakan laporan yang menunjukan jumlah pendapatan atau penghasilan yang diperoleh dan biaya-biaya yang dikeluarkan dan laba rugi dalam suatu periode tertentu.

Menurut Van Horne dan Wachowichz (2005: 193) dalam skripsi Meylina Sihaloho, Dian (2007: 20), laporan laba rugi merupakan ringkasan dari pendapatan dan biaya perusahaan selama periode tertentu, diakhiri dengan laba atau kerugian bersih untuk periode tersebut.

Dari beberapa uraian diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa laporan laba rugi merupakan laporan yang menunjukan ringkasan jumlah pendapatan atau penghasilan yang diperoleh selama periode tertentu, yang diakhiri dengan laba atau kerugian bersih untuk periode tertentu.

 

2.1.8.    Unsur-Unsur Laporan Laba Rugi

Menurut Jumingan (2011: 32-33) unsur-unsur penting dari laporan laba rugi terdiri atas penghasilan utama, (operating reveneue atau sales),harga pokok penjualan (cost goods sold),biaya usaha (operating expenses'),penghasilan dan biaya di luar usaha pokok (other income and expensesatau nonoperating),dan pos-pos insidentil atau pos-pos luar biasa (extraordinary items).

1.   Penghasilan Utama (Sales)

Penghasilan utama dari perusahaan dagang, perusahaan jasa, atau perusahaan industri berupa hasil penjualan barang atau jasa kepada pembeli, langganan, penyewa, dan pemakai jasa lainnya.

2.    Harga Pokok Penjualan (Cost Of Goods Sold)

Bagi perusahaan dagang, harga pokok penjualan adalah harga pokok barang dagangan yang dibeli yang kemudian berhasil dijual selama suatu periode akuntansi. Bagi perusahaan industri harga pokok penjualan meliputi ongkos- ongkos bahan dasar, tenaga kerja, dan ongkos pabrik tidak langsung yang telah dikeluarkan dalam proses pembuatan barang yang kemudian berhasil dijual selama suatu periode akuntansi. Adapun harga pokok jasa terdiri atas biaya-biaya bahan (supplies),tenaga kerja, dan unsur lain yang timbul pada penciptaan jasa itu.

3.    Biaya Usaha (Operating Expenses)

Biaya usaha yang timbul sehubungan dengan penjualan atau pemasaran barang atau jasa dan penyelenggaraan fungsi administrasi dan umum dari perusahaan yang bersangkutan. Biaya usaha ini umumnya dipisahkan menjadi dua bagian yakni biaya penjualan atau biaya pemasaran (selling expenses)serta biaya umum dan administrasi (general and administrative expend).

Biaya penjualan mencakup biaya-biaya yang langsung berhubungan dengan penjualan dan pengiriman barang dagangan, misalnya biaya advertensi, biaya pengiriman, beban gaji bagian penjualan, dan beban-beban lainnya yang berkaitan dengan penjualan dan pengiriman barang atau jasa.

Biaya umum dan administrasi meliputi biaya-biaya pengawasan umum dan penyelenggaraan administrasi kantor, pemeliharaan catatan akuntansi, pembelian, korespondensi umum, penagihan piutang, dan lain-lain.

4.    Penghasilan Dan Biaya Nonoperating(Otherincome And Expense)

Penghasilan yang diperoleh dan biaya yang dikeluarkan yang tidak ada hubungannya dengan usaha pokok perusahaan. Penghasilan lain misalnya penghasilan bunga, penghasilan sewa, penghasilan dividen, penghasilan komisi, dan lain-lain. Biaya lain misalnya biaya bunga, biaya sewa, dan lain-lain.

5.    Pos-Pos Insidentil (Extraordinary Items)

Pos-pos insidentil adalah laba atau rugi dari transaksi-transaksi yang jarang dilakukan atau transaksi yang bersifat insidentil. Misalnya laba atau rugi dari penjualan surat-surat berharga dan aktiva lain selain barang dagangan, koreksi atas laba yang diperoleh periode sebelumnya, pajak atas laba insidentil.

 

2.1.9.      Hubungan dan Pengaruh Biaya Produksi dan Penjualan Terhadap Laba Kotor

Menurut Kasmir (2012: 303), laba kotor artinya laba yang diperoleh sebelum dikurangi biaya-biaya yang menjadi beban perusahaan. Artinya laba keseluruhan yang pertama sekali perusahaan peroleh. Jadi nilai dan perubahan laba kotor dipengaruhi oleh unsur penjualan dan harga pokok penjualan. Dalam perusahaan manufaktur, harga pokok penjualan terdiri dari unsur biaya produksi, dan persediaan barang , baik persediaan barang dalam proses maupun persediaan barang jadi. Jadi, laba kotor pada suatu perusahaan manufaktur diperoleh dengan mengurangkan penjualan dengan biaya produksi dan persediaan barang, baik persediaan dalam proses maupun persediaan barang jadi (Wulan Dani. Surya, 2006: 43).

Berdasarkan penjelasan di atas jelaslah bahwa biaya produksi dan penjualan merupakan unsur yang membentuk laba kotor. Biaya produksi merupakan biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi bahan jadi. Biaya ini akan membentuk harga pokok penjualan setelah diperhitungkan jumlah persediaan barang dalam proses dan persediaan barang jadi. Adanya hubungan pengaruh biaya produksi dan penjualan terhadap laba kotor memberikan pengertian bahwa perubahan biaya produksi dan penjualan juga mengakibatkan perubahan pada laba kotornya.

Laba kotor diperoleh dari pengurangan penjualan dengan harga pokok penjualan. Jadi dapat dikatakan bahwa biaya produksi merupakan pengurang terhadap laba kotor karena biaya produksi mengurangi pendapatan suatu perusahaan atau dapat dikatakan bahwa biaya produksi berpengaruh negatif terhadap laba kotor. Hal ini berarti jika biaya produksi naik, sedangkan unsur lainnya tetap, maka laba kotor cenderung menurun. Penjualan sebagai pendorong untuk meningkatkan laba kotor, karena penjualan meningkatkan pendapatan suatu perusahaan. Jadi dapat dikatakan bahwa penjualan berpengaruh positif terhadap laba kotor. Hal ini berarti jika penjualan naik, sedangkan unsur lainnya tetap maka laba kotor cenderung naik (Wulan Dani, Surya 2006: 44).

Dengan demikian, kemampuan suatu perusahaan untuk meningkatkan laba kotor salah satunya ditentukan oleh strategi-strategi yang diterapkan oleh suatu perusahaan berkaitan dengan penjualan dan efisiensi biaya.

 

2.2.    Penelitian Sebelumnya

Adapun penelitian ini merujuk pada beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya, secara ringkas sebagai berikut:

 

 

TABEL 2.1

PENELITIAN SEBELUMNYA

No

Nama

Judul

Perbedaan

Hasil

1.

Dewi Retno Indriaty Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang (2010).

Analisis

Pengaruh

Tingkat Kualitas Pelayanan Jasa Puskesmas Terhadap Kepuasaan

Pasien (Studi

Pada Puskesmas

Gunungpati

Semarang)

Pada penelitian terdahulu menggunakan metode analisis data kualitatif, data kuntitatif, data asumsi klasik, uji koefisien regresi linear berganda, dan analisis regresi linear berganda, sedangkan penelitian ini menggunakan uji koefisen regresi linear berganda dan analisis regresi linear berganda saja.

Menunjukan bahwa yang paling berpengaruh terhadap variabel kepuasaan konsumen adalah variabel bukti langsung dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,36 (36 persen)

2.

Dian Meylina Sihaloho Program

Akuntansi Fakultas Ekonomi

Universitas Sumatera Utara

Medan (2007)

 

Pengaruh Harga Jual Produk Terhadap Marjin Kotor (Groos Margin)Pada

Pt. Perkebunan Nusantara IV.

Pada penelitian terdahulu menggunakan metode analisis regresi sederhana, sedangkan pada penelitian ini menggunakan analisis regresi linear berganda.

Menunjukan bahwa untuk

meningkatkan operasionalnya, perusahaan sebaiknya tidak hanya

memperhatikan harga jual produk, tapijuga

menekankan biaya produksi dan harga pokok penjualan agar dapat meningkatkan laba perusahaan.

3.

Surya Wulan Deni Fakultas

Ekonomi Universitas Sumatera

Utara Medan (2006)

 

Analisis Pengaruh

Biaya Produksi Dan Penjualan Air Bersih

Terhadap Laba Kotor Pada PDAM Tirtanadi

Pada penelitian terdahulu menggunakan dua periode akuntansi yaitu tahun 2003, 2004,sedangkan pada penelitian ini data yang digunakan penulis

adalah selama lima periode akuntansi tahun 2008 s/d

2012

Dalam melakukan peningkatan laba kotor PDAM Tirtanadi dapat dilakukan dengan Peningkatan penjualan yang

disertai dengan efisensi biaya produksi

 

 

 

 

 

 

 

2.3.Kerangka Berpikir

Text Box: Variabel DependenVariabel Independen

 

 

GAMBAR 2.1. KERANGKA BERPIKIR

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


2.4.Hipotesis

Menurut Usman dan Akbar (2011 : 119), hipotesis adalah pernyataan sementara yang perlu diuji kebenarannya. Untuk menguji kebenaran sebuah hipotesis di gunakan pengujian yang disebut pengujian hipotesis atau pengetesan hipotesis (testing hypothesis). Adapun hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini adalah :

Hx : Biaya produksi air bersih secara parsial berpengaruh terhadap laba kotor.

H2 : Penjualan air bersih secara parsial berpengaruh terhadap laba kotor.

H3: Biaya poduksi dan penjualan air bersih secara bersama-sama berpengaruh terhadap laba kotor pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau.

 

III.              METODOLOGI PENELITIAN

3.1.    Ruang lingkup Penelitian

Penelitian dilakukan pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau, yang beralamat di Jln.Garuda No. 04 Kel. Watas Lubuk Durian Lubuklinggau. Penelitian ini akan dilaksanakan dari bulan April sampai bulan Juni 2014. Laporan keuangan yang dianalisis yaitu laporan keuangan tahun anggaran 2008 s/d 2012.

 

3.2.    Teknik Penentuan Sampel

Teknik penentuan sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini, penulis menggunakan purposive sampling.Dalam penelitian ini, penulis sengaja memilih orang tertentu yang dipertimbangkan akan memberikan data yang diperlukan, seperti kepala sub bagian umum dan personalia, kepala bagian administrasi dan keuangan, dan kepala sub bagian keuangan dan pembukuan pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau.

 

3.3.    Teknik Pengumpulan Data

Jenis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah data primer berupa data yang diperoleh langsung dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau yang meliputi arsip, catatan, dan data sekunder berupa literatur dokumen yang berhubungan dengan sejarah tempat penelitian.

Teknik pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah observasi,wawancara dan dokumentasi. Dalam melakukan observasidan wawancara diperoleh data-data yang berupa arsip dan dokumen yang berhubungan dengan penelitian.

 

3.4.      Teknik Analisis

Metode analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah analisis metode analasis kualitatif berupa gambaran umum lokasi penelitian dan analisis kuantitatif berupa teknik analisis uji T, uji F, koefisien deterrminan(R2) dan analisis regresi linear berganda. Tahapan-tahapan analisis yang diterapkan dalam penelitian dapat dijelaskan sebagai berikut:

 

3.4.1.    Uji Koefisen Regresi Linear Berganda

3.4.1.1.    Pengujian Parsial (Uji t)

Pengujian parsial (Uji t) digunakan untuk menguji berarti atau tidaknya hubungan variabel-variabel independent biaya produksi (Xx) secara parsial terhadap variabel dependen laba kotor (Y) pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau, dan penjualan air bersih (X2) secara parsial terhadap dependen laba kotor (Y) pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau.

Menurut Ghozali (2005) dalam skripsi Retno Indriaty, Dewi (2010: 48), langkah-langkah pengujiannya adalah sebagai berikut :

a.     Menentukan formulasi hipotesis

H : p = 0, artinya variabel X1( dan X2, tidak mempunyai pengaruh yang signifikan secara parsial terhadap variabel Y.

H2 : p ^ 0, artinya variabel X1, dan X2, mempunyai pengaruh yang signifikan secara parsial terhadap variabel Y.

b.     Menentukan derajat kepercayaan 95% (a= 0,05)

c.      Menentukan signifikansi dan membuat kesimpulan

Nilai signifikasi (P Value) < 0,05 maka H1 ditolak dan H2 diterima. Artinya variabel independent secara parsial mempengaruhi variabel dependent.

Nilai signifikasi (P Value) > 0,05 maka H1 diterima dan H2 ditolak. Artinya variabel independent secara parsial tidak mempengaruhi variabel dependent.

 

3.4.I.2.      Uji F (Uji Simultan)

Uji F (Uji Simultan) digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel independent dan variabel dependent, apakah variabel biaya produksi (X1), dan penjualan air bersih (X2) benar-benar berpengaruh secara simultan(bersama-sama) terhadap variabel dependen laba kotor (Y) Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau.

Menurut Ghozali (2005) dalam skripsi Retno Indriaty, Dewi (2010: 49), langkah-langkah pengujiannya adalah sebagai berikut :

a.    Menentukan formulasi hipotesis

H3 : Pi = p2 = 0, artinya variabel X1( dan X2, tidak mempunyai pengaruh yang signifikan secara bersama-sama (simultan)terhadap variabel Y.

H3 : P1 = p2 ^ 0, artinya variabel X1, dan X2, mempunyai pengaruh yang signifikan secara bersama-sama (simultan) terhadap variabel Y.

b.     Menentukan derajat kepercayaan 95% (a= 0,05)

c.     Menentukan signifikasi dan membuat kesimpulan

Nilai signifikasi (P Value) < 0,05 maka H1 ditolak dan H2 diterima. Artinya variabel independent secara bersama-sama (simultan)mempengaruhi variabel dependent.

Nilai signifikasi (P Value) > 0,05 maka H1 diterima dan H2 ditolak. Artinya variabel independent secara bersama-sama (simultan) tidak mempengaruhi variabel dependent.

 

3.4.I.3.      Koefisien Determinan (R2)

Menurut Ghozali (2005) dalam skripsi Retno Indriaty, Dewi (2010: 50), Koefisien determinasi (R2) dilakukan untuk melihat adanya hubungan yang sempurna atau tidak, yang ditunjukan pada perubahan variabel bebas (biaya sumber air bersih, biaya pengolahan air bersih, penjualan air bersih) akan diikuti oleh variabel terikat (laba kotor) pada proposi yang sama. Pengujian ini dengan melihat nilai R Square (R2). Nilai koefisen determinasi adalah antara 0 (nol) sampai dengan 1 (satu). Selanjutnya nilai (R2) yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independent (variabel bebas) dalam menjelaskan variasi variabel dependent (terikat) amat terbatas. Nilai yang mendekati 1 (satu) berarti variabel- variabel independent memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk mempredeksi variasi dependent.

 

3.4.2.    Analisis Regresi Linear Berganda

Menurut Hasan M. Iqbal (2011: 269), regresi linear berganda adalah regresi di mana variabel terikatnya (Y) dihubungkan/dijelaskan lebih dari satu variabel, mungkin dua, tiga, dan seterusnya variabel bebas (X1,X2,X3,..Xn) namun masih menunjukan diagram hubungan yang linear. Bentuk umum persamaan regresi linear berganda dapat dituliskan sebagai berikut:

Y = a+ biXi + bX2+ b3X3+…. + b^X^ + s

Menurut Hasan M. Iqbal (2011: 270), jika sebuah variabel terikat dihubungkan dengan dua variabel bebas maka persamaan regresi linear bergandanya dituliskan sebagai berikut:

Y      = <x+ bi Xi+ b 2X2+ £

Teknik analisis regresi linear berganda yang akan digunakan adalah dengan model persamaan sebagai berikut:

Y      = u+ Xi+ @2^2+ £

Dimana :

Y                                          = Laba Kotor

a                      = Konstanta

b-i                   = Koefisien Regresi     Biaya Produksi

b2                    = Koefisien Regresi     Penjualan

X1                    = Biaya Produksi

X2                    = Penjualan

£                      = Kesalahan pengganggu (distrurbance terma),artinya nilai-nilai dari variabel lain yang  

                            tidak dimasukkan dalam persamaan. Nilai ini biasanya tidak dihiraukan dalam perhitungan.

 

 

 

No.

Variabel

Definisi Operasional

Indikator

1.

Biaya

produksi

(*i)

Biaya produksi yaitu biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi bahan jadi dan biaya yang berkaitan dengan pembuatan barang dan penyediaan jasa.

1.   Biaya bahan langsung

2.   Biaya tenaga kerja langsung

3.   Biaya overhead pabrik

2.

Penjualan

(X2)

Penjualan merupakan penerimaan yang diperoleh dari pengiriman barang dagangan atau jasa yang dijual, baik dalam unit ataupun dalam rupiah.

Pendapatan usaha

3.

Laba kotor (Y)

Laba kotor atau marjin kotor adalah total penjualan dikurangi harga pokok penjualan atau laba yang diperoleh sebelum biaya- biaya yang menjadi beban perusahaan/laba keseluruhan yang pertama sekali perusahaan peroleh.

Laporan laba rugi

 

 

 

3.5.      Operasional Variabel Penelitian

                                           Tabel 3.1. Operasional Variabel

 

IV.HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1  Hasil Penelitian

4.1.1.      Biaya Produksi Air Bersih

Jumlah biaya produksi air bersih Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau dari tahun 2008 s/d 2012 mengalami kenaikan jumlah biaya produksi air bersih. Adapun tabel yang menjelaskan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau mengalami kenaikan biaya produksi air bersih untuk tahun 2008 s/d 2012 dalam tahunan sebagai berikut:

 

 

 

Tabel 4.1

Jumlah Biaya Produksi Air Bersih Perusahaan Daerah Air Minum
(PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau Untuk
Periode Akuntansi Tahun 2008 S/D 2012

No

Tahun

Jumlah Biaya Produksi

1.

2008

Rp. 2.626.841.937,67

2.

2009

Rp. 5.545.004.591,63

3.

2010

Rp. 6.185.198.600,13

4.

2011

Rp. 7.156.176.291,42

5.

2012

Rp. 7.252.142.156,67

 

Sumber: PDAM Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau (data hasil olah peneliti)

 

 

 

Berdasarkan pada tabel 4.1 jumlah biaya produksi air bersih Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau yaitu biaya- biaya yang digunakan dalam proses produksi yang terdiri dari biaya langsung, biaya tenaga kerja langsung, biaya produksi tak langsung (biaya overhead pabrik).

Biaya langsung Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau merupakan semua bahan untuk membentuk suatu kesatuan yang tidak dipisahkan dari barang jadi dan dapat langsung diperhitungkan dalam harga pokok produksi, seperti beban air baku. Biaya tenaga kerja langsung Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau merupakan upah untuk para pekerja yang secara langsung membuat produk dan jasanya dapat langsung diperhitungkan ke dalam harga pokok produk, seperti beban pegawai. Biaya produksi tak langsung (biaya overhead pabrik) Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau merupakan biaya selain biaya bahan langsung dan biaya tenaga kerja langsung yang terjadi di pabrik, seperti beban bahan bakar, beban listrik, beban operasional lainnnya, beban pemeliharaan, beban pemakaian bahan kimia.

Biaya non produksi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau yaitu biaya yang terjadi atau dikeluarkan untuk bahan pelengkap atau pembantu, seperti beban alat tulis kantor dan cetakan, beban pemakaian bahan pembantu, beban kantor, beban penelitian dan pengembangan, beban promosi, beban penyusutan aset, beban penyisihan piutang usaha, beban bunga dan pajak giro.

 

4.1.2.      Penjualan Air bersih

Penjualan merupakan jumlah omzet barang atau jasa yang dijual, baik dalam unit ataupun dalam rupiah. Besar kecil penjualan ini penting bagi perusahaan sebagai data awal dalam melakukan analisis. Penjualan air bersih merupakan sumber pendapatan usaha bagi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau. Adapun jumlah penjualan air bersih Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau untuk periode akuntansi tahun 2008 s/d 2012 sebagai berikut:

 

 

Tabel 4.2

Jumlah Penjualan Air Bersih Perusahaan Daerah Air Minum
(PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau Untuk
Periode Akuntansi Tahun 2008 S/D 2012

No

Tahun

Jumlah Penjualan Air Bersih per Tahun

1.

2008

Rp. 6.101.593.058,00

2.

2009

Rp. 6.507.538.896,00

3.

2010

Rp. 6.942.685.062,00

4

2011

Rp. 8.327.568.833,64

5.

2012

Rp. 8.317.172.372,00

 

Sumber: PDAM Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau (data hasil olah peneliti)

 

 

 

Berdasarkan dari tabel 4.2 jumlah penjualan air bersih Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau dari tahun 2008 s/d 2011 mengalami kenaikan namun pada tahun 2012 jumlah penjualan air bersih mengalami penurunan. Kondisi ini juga mendorong perubahan dalam laba kotor Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau setiap tahun mengalami penurunan maupun kenaikan yang berbeda-beda dari waktu ke waktu disebabkan laba kotor adalah laba yang diperoleh sebelum dikurangi biaya-biaya yang menjadi beban perusahaan.

 

4.1.3.      Laba Kotor

Laba kotor Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau laba diperoleh sebelum dikurangi biaya-biaya yang menjadi beban perusahaan. Artinya laba keseluruhan yang pertama sekali perusahaan peroleh. Adapun jumlah laba kotor Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau untuk periode akuntansi tahun 2008 s/d 2012 sebagai berikut:

 

 

Tabel 4.3

No.

Tahun

Jumlah Laba Kotor per Tahun

1.

2008

Rp. 3.474.751.120,33

2.

2009

Rp. 962.534.304,37

3.

2010

Rp. 757.486.461,87

4.

2011

Rp. 1.171.392.542,22

5.

2012

Rp. 1.065.030.215,33

 

Sumber: PDAM Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau (data hasil olah peneliti)

 

 

Jumlah Laba Kotor Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM)
Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau Untuk
Periode Akuntansi Tahun 2008 S/D 2012

 

Berdasarkan tabel 4.3 diatas perkembangan jumlah laba kotor yang diperoleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau mengalami perubahan kenaikan dan penurunan yang tidak stabil. Pada tahun 2008 s/d 2010 jumlah laba kotor mengalami penurunan. Tahun 2011 jumlah laba kotor naik, namun pada tahun 2012 jumlah laba kotor yang diperoleh perusahaan kembali menurun. Laba kotor Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau diperoleh dari jumlah pendapatan usaha dikurangi oleh biaya produksi. Pendapatan usaha Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau diperoleh dari hasil penjualan air bersih, sedangkan biaya produksi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau terdiri dari beban pegawai, beban bahan bakar, beban listrik, beban operasional lainnya, beban pemeliharaan, beban air baku, beban pemakaian bahan kimia.

 

4.2. Pembahasan

4.2.1.      Pengujian Parsial (Uji t)

Pengujian parsial (Uji t) digunakan untuk menguji berpengaruh atau tidaknya hubungan variabel-variabel independent biaya produksi (X1) secara parsial terhadap variabel dependen laba kotor (Y) pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau, dan penjualan air bersih (X2) secara parsial terhadap dependen laba kotor (Y) pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau.

Langkah-langkah pengujiannya adalah sebagai berikut :

a.                Menentukan formulasi hipotesis

H1 : = 0, artinya variabel X1 dan X2, tidak mempunyai pengaruh yang signifikan secara parsial terhadap  

         variabel Y.

H2 : ^ 0, artinya variabel X1 dan X2, mempunyai pengaruh yang signifikan secara parsial terhadap variabel  

         Y.

b.                Menentukan derajat kepercayaan 95% (a= 0,05)

c.                Menentukan signifikansi dan membuat kesimpulan

Nilai signifikasi (P Value) < 0,05 maka H1 ditolak dan H2 diterima. Artinya variabel independent secara parsial mempengaruhi variabel dependent Nilai  signifikasi (P Value) > 0,05 maka H1 diterima dan H2 ditolak. Artinya variabel independent secara parsial tidak mempengaruhi variabel dependent.

Tabel 4.4

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized

Coefficients

T

Sig.

B

Std. Error

Beta

1(Constant)

-2.244E9

3.448E9

 

-.651

.582

Biaya produksi

-.807

.180

-1.356

-4.491

.046

Penjualan air bersih

1.261

.630

.604

2.000

.183

Hasil Uji Parsial (Uji t)

 

 

 

 

 

 

 

 
    Hubungi Kami
  • Universitas Musi Rawas
  • Jl. Pembangunan Komplek Pemkab. MURA
  • Kel. Air Kuti Kec. Lubuklinggau Timur I
  • Kota Lubuklinggau 31626
  • Telp/Fax. 0733 - 451646
 

Coefficients3

Sumber: Data Primer Yang Diolah, 2014