penulis : DAHLIANA-Ch.Ibramsyah
Nama Jurnal: vol 03 No 1
Waktu Terbit : 2016-11-15
File : Tidak Ada File
Abstrak :

 

 

Analisis Penerapan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 27 Tahun 1998 Dengan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) Tahun 2009 Pada Koperasi Prim Kopti Mura Lubuklinggau

 

DAHLIANA

Ch.Ibramsyah,SE.M.Si

 

ABSTRACT

This study aims to help Prim KOPTI Mura Lubuklinggau determine the application of GAAP financial statements Based on ETAP.

 

This study uses qualitative comparative (comparison). The meaning of the word shows that in this study the researchers intend to conduct a comparison between SFAS N0 27 with SAK ETAP, is there a difference, if there is a difference SAK where better to be applied in the cooperative.

 

The results showed that the cooperative Prim KOPTI Mura still under SFAS No. 27, in presenting the financial statements. Especially for the balance sheet and the consolidated calculation of net income. SAK ETAP to prepare the financial statements standard cooperative judged less to apply to cooperatives. This is because the things that are not specifically regulated in SAK ETAP is still referred to in SFAS No. 27. besides the cooperative has not menyajiakan keselauruhan financial reports, in accordance with Financial Accounting Standards Entities Without Public Accountability (SAK ETAP).

 

Abstrak

 

Penelitian ini bertujuan untuk membantu Prim KOPTI Mura Lubuklinggau mengetahui penerapan penyajian laporan keuangan Berdasarkan SAK ETAP.

 

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif komperatif (perbandingan). Makna dari kata tersebut menunjukan bahwa dalam penelitian ini peneliti bermaksud mengadakan perbandingan antara PSAK N0 27 dengan SAK ETAP, apakah ada perbedaan, kalau ada perbedaan SAK mana lebih baik untuk diterapkan di koperasi.

 

Hasil penelitian menunjukan bahwa koperasi Prim KOPTI Mura masih menggunakan PSAK No 27 dalam menyajikan laporan keuangan. Terutama untuk laporan neraca dan laporan perhitungan sisa hasil usaha. SAK ETAP untuk standar penyususnan laporan keuangan koperasi dinilai kurang untuk diterapkan pada koperasi. Hal ini dikarenakan hal-hal yang tidak diatur secara spesifik dalam SAK ETAP masih mengacu pada PSAK No 27. selain itu pihak koperasi belum menyajiakan laporan keuangan secara keselauruhan, yang sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP).

 

 

I . PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang

Pembangunan yang dilaksanakan bangsa indonesia merupakan wujud dari usaha untuk mencapai tujuan nasional. Tujuan nasional bangsa Indonesia tercermin dalam undang-undang dasar 1945 disebutkan bahwa usaha yang sesuai dengan pasal tersebut adalah koperasi. Koperasi sebagai suatu sistem yang turut serta mewarnai kehidupan perekonomian Indonesia telah memiliki legalitas tersendiri yang tertuang dalam Undang-Undang no.25 tahun 1992. Koperasi merupakan organisasi yang terbuka, terutama bagi para anggotanya. Pembangunan koperasi sebagai badan usaha ditujukan pada penguatan dan perluasan basis usaha, peningkatan mutu sumber daya manusia terutama pengurus dan pengelola. (Mulyani: 2012 )

Berdasarkan UU No. 25 tahun 1992 (Perkoperasian Indonesia) koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan atas azas kekeluargaan. Koperasi berfungsi sebagai wadah untuk mengorganisir pendayagunaan dan pemanfaatan sumber daya yang dimiliki anggota koperasi (PSAK No. 27, Revisi 1998)

Standar Akuntansi Keuangan (SAK) adalah suatu kerangka dalam prosedur pembuatan laporan keuangan agar terjadi keseragaman dalam penyajian laporan keuangan. Standar Akuntansi Keuangan (SAK) merupakan hasil perumusan

Komite Prinsipil Akuntansi Indonesia pada tahun 1994 menggantikan Prinsip Akuntansi Indonesia tahun 1984. SAK di Indonesia merupakan terapan dari beberapa standar akuntansi yang ada seperti, IAS,IFRS,ETAP,GAAP. Selain itu ada juga PSAK syariah dan juga SAP.

Selain untuk keseragaman laporan keuangan, Standar akuntansi juga diperlukan untuk memudahkan penyusunan laporan keuangan, memudahkan auditor serta memudahkan pembaca laporan keuangan untuk menginterpretasikan dan membandingkan laporan keuangan entitas yang berbeda. Di Indonesia SAK yang diterapkan akan berdasarkan IFRS pada tahun 2012 mendatang. (DhikaAugustyas:2011)

Seiring dengan pesatnya perkembangan usaha di Indonesia, pada bulan Mei 2009 telah diterbitkan dan disahkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan tentang Exposure Draf Pernyataan Pencabutann Standar Akuntansi Keuangan yaitu pencabutan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 27 tentang akuntansi perkoperasian. Pencabutan PSAK No. 27 dilandasi alasan sebagai dampak dari konvergensi IFRS yang mengakibatkan SAK berbasis industri harus dicabut karena sudah diatur dalam SAK lain. Sebagai pengganti PSAK No. 27 kini telah diterbitkan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) yang digunakan untuk entitas tanpa akuntabilitas publik. Entitas tanpa akuntabilitas publik adalah entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik yang signifikan dan menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum bagi pengguna external seperti pemilik yang tidak terlibat langsung dalam pengelolaan usaha, kreditur, dan lembaga pemeringkat kredit.

Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik ( SAK ETAP) diterapkan untuk penyusunan laporan keuangan yang dimulai pada tanggal 1 Januari 2011. Jika SAK ETAP diterapkan dini, maka entitas harus menerapakan SAK ETAP untuk penyusunan laporan keuangan yang dimulai pada atau setelahh 1 Januari 2010. Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi posisi keuangan, kinerja keuangan, dan laporan arus kas suatu entitas yang bermanfaat bagi sejumlah besar pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi oleh siapapun yang tidak dalam posisi dapat meminta laporan keuangan khusus untuk memenuhi tujuannya, laporan keuangan juga menunjukan apa yang telah dilakukan manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya. (SAK ETAP. Paragraph 2.1)

Perkembangan koperasi di Indonesia sangat pesat, pada tahun 2013 koperasi di Indonesia meningkat 6,23% dibanding tahun-tahun sebelumnya. Data Kementerian Koperasi dan UKM menyebutkan sampai Desember 2013 total koperasi di Indonesia mencapai 186.907 unit. Sedangkan untuk wilayah Kota Lubuklinggau terdapat koperasi unit desa berjumlah 15 unit dan koperasi Non KUD berjumlah 67 unit, dan koperasi simpan pinjam berjumlah 47 unit koperasi. (Bps Kota Lubuklinggau). Koperasi sebagai salah satu badan usaha dalam kehidupan ekonomi Indonesia diharapkan dapat berkembang secara sehat dan kuat sejajar dengan badan usaha lainnya. Salah satunya yaitu koperasi Prim KOPTI Mura, Koperasi Prim KOPTI Mura merupakan koperasi konsumen, koperasi Konsumen adalah koperasi yang anggotanya para konsumen akhir atau pemakai barang atau jasa, dan kegiatan atau jasa utama melakukan pembelian bersama. Contoh Koperasi Konsumen adalah koperasi yang kegiatan utamanya mengelola warung serba ada atau supermarket. Tugas utama Prim KOPTI Mura yaitu membantu para usaha tahu tempe dalam menyediakan bahan baku sebagai penyedia kacang kedelai.

Namun, bila dilihat dari segi kebutuhannya terhadap jasa akuntansi, selama ini koperasi Prim KOPTI Mura Lubuklinggau membuat laporan keuangan mengacu pada Standar Akuntansi Keuangan No 27, adapun laporan keuangan PSAK No 27 yaitu, laporan neraca, laporan arus kas, laporan perhitungan sisa hasil usaha, laporan promosi ekonomi anggota dan catatan atas laporan keuangan. Standar keuangan ini dibuat agar laporan keuangan yang dihasilkan koperasi dapat memberikan manfaat yang maksimal, dapat dibandingkan dan yang paling dipentingkan lagi tidak menyesatkan para pemakainya. Maka proses penyajian laporan keuangan harus sesuai dengan pedoman yang telah dikeluarkan oleh ikatan akuntansi Indonesia (IAI).

Di dalam penyajian laporan keuangan SAK ETAP hampir sama dengan PSAK No 27, informasi yang disajikan PSAK No 27 dalam laporan posisi keuangan, pembedaan aset lancar dan tidak lancar dan liabilitas jangka pendek dan jangka panjang, informasi yang disajikan dalam laporan posisi keuangan atau catatan atas laporan keuangan, perubahan istilah Neraca menjadi Laporan Posisi Keuangan, Kewajiban (liability) menjadi liabilitas. Sedangkan, informasi yang disajikan SAK ETAP dalam neraca, yang menghilangkan pos aset keuangan, properti investasi yang diukur pada nilai wajar, aset biologis yang diukur pada biaya perolehan dan nilai wajar, kewajiban berbunga jangka panjang, aset dan kewajiban pajak tangguhan, kepentingan non pengendalian. Dengan demikian SAK ETAP ini diharapkan dapat berfungsi sebagai acuan praktek akuntansi bagi entitas usaha di Indonesia, utamanya pelaku koperasi mengingat isinya telah di sesuaikan dengan situasi dan kondisi usaha yang ada.

Berdasarkan latar belakang penulis tertarik mengangkat permasalahan tentang: Bagaimana penerapan standar akuntansi keuangan (PSAK) no 27 dengan standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) pada Prim KOPTI Mura Lubuklinggau dalam penyajian laporan keuangan.Untuk membatasi ruang lingkup penelitian dan pembahasan yang meluas penulis hanya membahas penyajian laporan keuangan Prim KOPTI Mura Lubuklinggau tahun 2011 sampai tahun 2012 ditinjau berdasarkan PSAK No 27 tahun 1998 dengan SAK ETAP tahun 2009.

 

II.   TINJAUAN PUSTAKA

2.1.    Teori Yang Berkenaan Dengan Variabel yang diambil

2.1.1.Pengertian Standar Akuntansi Keuangan (SAK)

Standar Akuntansi Keuangan (SAK) adalah suatu kerangka dalam prosedur pembuatan laporan keuangan agar terjadi keseragaman dalam penyajian laporan keuangan. Standar Akuntansi Keuangan yang disusun oleh lembaga Ikatan Akuntan Indonesia selalu mengacu pada teori-teori yang berlaku dan memberikan tafsiran dan penalaran yang telah mendalam dalam hal praktek terutama dalam pembuatan laporan keuangan dalam memperolah informasi yang akurat sehubungan data ekonomi. (Just Mengulas: 2009)

 

2.1.2.Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP).

Pengertian Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik atau SAK ETAP (IAI,2009;1) yaitu standar yang dimaksudkan untuk digunakan entitas tanpa akuntabilitas publik. Entitas tanpa akuntabilitas publik adalah entitas yang:

a.    Tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan; dan

b.    Menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statement)bagi pengguna eksternal. Contoh pengguna eksternal adalah pemilik yang tidak terlibat langsung dalam pengelolaan usaha, kreditur, dan lembaga pemeringkat kredit.Entitas memiliki akuntabilitas publik signifikan jika:

 

a. Entitas telah mengajukan pernyataan pendaftaran, atau dalam proses pengajuan pernyataan pendaftaran, pada

    otoritas pasar modal atau regulator lain untuk tujuan penerbitan efek di pasar modal; atau.

b.Entitas menguasai aset dalam kapasitas sebagai fidusia untuk sekelompok besar masyarakat, seperti bank, entitas asuransi, pialang dan atau pedagang efek, dana pensiun, reksa dana dan bank investasi.

Entitas yang memiliki akuntabilitas publik signifikan dapat menggunakan SAK ETAP jika otoritas berwenang membuat regulasi mengizinkan penggunaan SAK ETAP. Dalam koperasi tentu tidak lepas dari laporan keuangan koperasi. Penyusunan laporan keuangan tentu berdasarka standar yang telah ditetapkan. Standar yang berlaku saat ini yaitu Standar akuntansi entitas tanpa akuntanbilitas publik (SAK ETAP) merupakan standar baru yang mulai efektif digunakan pada tanggal 1 Januari 2011. Standar ini merupakan pengganti dari PSAK no 27 yang mengatur tentang pelaporan laporan keuangan pada koperasi.

SAK-ETAP yaitu standar yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia yang bertujuan untuk memudahkan koperasi dan UKM atau Entitas tanpa akuntabilitas publik yang dimaksud adalah entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan; dan tidak menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statement)untuk mampu membuat pelaporan keuangn sendiri. Selain itu SAK ETAP lebih sederhana dibandingkan dengan PSAK - IFRS sehingga lebih mudah dalam implementasinya tetapi tetap memberikan informasi yang handal dalam penyajian laporan keuangan.

 

Dalam beberapa hal SAK-ETAP dinilai lebih mudah dipahami karena dalam SAK-ETAP terdiri dari seratus halaman dengan menyajikan 30 bab. Hal ini berbeda dengan PSAK yang menurut beberapa orang sulit. SAK ETAP ini Disusun dengan mengadopsi IFRS for SME dengan modifikasi sesuai kondisi di Indonesia dan dibuat lebih ringkas. Sehingga lebih mudah dalam penerapan atau praktik secara langsung pada penyusunan laporan keuangan.

Munculnya SAK ETAP dengan maksud agar konvergensi IFRS dapat segera diwujudkan secara penuh. Sehingga perusahaan-perusahaan yang kesulitan untuk menerapkan SAK Penuh, dapat mengadopsi SAK ETAP sebagai standar keuangan yang lebih sederhana. Perbedaan yang paling terlihat antara PSAK no. 27 dengan SAK ETAP adalah tidak ada kewajiban koperasi menyusun dan menyajikan Laporan Promosi Ekonomi Anggota (LPEA).

2.1.3.                  Manfaat SAK ETAP

Manfaat standar akuntansi keuangan entitas tanpa akuntanbilitas publik

yaitu:

a.        Diharapkan dengan adanya SAK ETAP perusahaan kecil, menengah, mampu untuk menyusun laporan keuangannya sendiri, dapat diaudit dan mendapatkan opini audit, sehingga dapat menggunakan laporan keuangannya untuk mendapatkan dana untuk pengembangan usaha.

b.        Lebih sederhana dibandingkan dengan PSAK-IFRS

c.        Tetap memberikan informasi yang handal.

2.1.4.                  Laporan Keuangan Koperasi

Laporan keuangan koperasi adalah catatan informasi keuangan suatu koperasi pada suatu periode akuntansi yang dapat digunakan untuk menggambarkan kinerja koperasi tersebut. (PSAK No 27 1998)

Laporan keuangan koperasi terdiri dari :

a.        Neraca yaitu laporan yang menginformasikan posisi keuangan pada saat tertentu, yang tercermin pada jumlah asset yang dimiliki, jumlah liabilitas, dan ekuitas koperasi pada suatu periode akuntansi.

b.        Perhitungan Hasil Usaha yaitu laporan yang menginformasikan hasil usaha kopeasi dalam suatu periode akuntansi.

c.        Laporan Arus Kas yaitu laporan yang menginformasikan perubahan dalam posisi keuangan sebagai akibat dari kegiatan usaha, pembelanjaan, dan investasi selama periode yang bersangkutan.

d.       Laporan Promosi Anggota adalah laporan yang memperlihatkan manfaat ekonomi yang diperoleh anggota koperasi selama satu tahun tertentu.

e.        Catatan Atas Laporan Keuangan adalah catatan yang menginformasikan kebijaksanaan akuntansi yang mempengaruhi posisi keuangan dari hasil keuangan koperasi.

2.1.5.                  Pengertian Koperasi

Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No 27 (2009:27,1) pengertian koperasi adalah “Badan usaha yang mengorganisir pemanfaatan dan pendayagunaan sumber daya ekonomi para anggotanya atas dasar prinsip-prinsip koperasi dan kaidah usaha ekonomi untuk meningkatkan taraf hidup anggota pada khususnya dan masyarakat daerah kerja pada umumnya, dengan demikian merupakan gerakan ekonomi rakyat dan soko guru perekonomian nasional”. Sedangkan menurut Undang-Undang No. 25 tahun 1992, koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya pada prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan. Berdasarkan pengertian di atas dapat kita simpulkan bahwa koperasi adalah suatu badan usaha atau badan hukum yang beranggotak orang-orang yang melandaskan     kegiatan ekonomi rakyat yang berasas kekeluargaan, dan sebagai soko guru perekonomian nasional.

2.1.6.    Jenis-Jenis Koperasi

Menurut undang-undang perkoperasian, koperasi dapat berbentuk Koperasi Primer atau Koperasi Sekunder. Koperasi Primer adalah semua koperasi yang didirikan dan beranggotakan orang seorang. Koperasi Primer didirikan oleh paling sedikit 20 (dua puluh) orang perseorangan dengan memisahkan sebagian kekayaan pendiri atau Anggota sebagai modal awal Koperasi (UU No.17 tahun 2012 pasal 7). Sedangkan Koperasi Sekunder adalah semua koperasi yang didirikan oleh dan beranggotakan Badan Hukum Koperasi, baik Badan Hukum Koperasi Primer. Menurut UU No.17 tahun 2012 pasal 7 Koperasi Sekunder didirikan oleh paling sedikit 3 (tiga) Koperasi Primer

Dari pengertian tersebut maka dalam pendirian koperasi terdapat berbagai jenis koperasi. Penentuan jenis koperasi diatur dalam Undang-Undang Perkoperasian yang mana menyebutkan bahwa jenis koperasi didasarkan pada kesamaan kegiatan dan kepentingan ekonomi anggotanya. Dengan demikian, sebelum mendirikan koperasi harus metentukan secara jelas keanggotaan dan kegiatan usaha. Dasar untuk menentukan jenis koperasi adalah kesamaan aktivitas, kepentingan dan kebutuhan ekonomi anggotanya.

Beberapa jenis koperasi menurut Undang-Undang No 17 tahun 2012 pasal 83 adalah :

1.        Koperasi Simpan Pinjam adalah koperasi yang beranggotakan masyarakat baik selaku konsumen maupun produsen barang. Usaha koperasi jenis ini adalah menyelenggarakan fungsi penghimpun dana dan menyediakan pinjaman/modal untuk kepentingan anggota, baik selaku konsumen maupun produsen. Koperasi ini dapat dianggap pula sebagai koperasi jasa.

2.        Koperasi Konsumen adalah koperasi yang beranggotakan para konsumen atau pemakai barang kebutuhan sehari-hari. Usaha koperasi jenis ini adalah menyelenggarakan fungsi penyedia barang-barang keperluan sehari-hari untuk kepentingan anggota dan masyarakat selaku konsumen.

3.        Koperasi Produsen adalah koperasi yang beranggotakan para produsen barang dan memiliki usaha rumah tangga. Usaha koperasi jenis ini adalah menyelenggarakan fungsi penyedia bahan/sarana produksi, pemrosesan dan pemasaran barang yang dihasilkan anggota selaku produsen.

4.        Koperasi Jasa adalah koperasi yang merupakan wadah bagi setiap anggota yang mempunyai segala jenis usaha guna meningkatkan kesejahteraan usaha para anggota.

2.1.7.                  Pengertian Laporan Keuangan

Laporan keuangan diperoleh dari proses berjalannya sistem akuntansi. Akuntansi merupakan bahasa bisnis yang dapat memberikan informasi tentang kondisi bisnis dan hasil usaha pada suatu waktu atau periode tertentu.

Berikut ini pengertian laporan keuangan menurut para ahli:

1.      Menurut Kieso (2010:2), Laporan keuangan merupakan alat komunikasi antara manajemen sebagai pengelola perusahaan dan penyajian laporan keuangan dengan pihak lain sebagai pemakai laporan keuangan baik pihak internal maupun external. Pemakai Laporan keuangan ini meliputi investor, kreditor, manajer, serikat pekerja, dan badan-badan pemerintah.

2.      Menurut Harahap (2011:106) pada dasarnya laporan keuangan adalah hasil dari proses yang dapat digunakan sebagai alat berkomunikasi antara data keuangan dan aktifitas perusahan tertentu.

Berdasarkan defenisi di atas dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan merupakan hasil dari akhir proses akuntansi yang berupa data keuangan dan aktifitas dari perusahaan yang digunakan sebagai pemberi informasi bagi pihak internal maupun external.

 

2.1.8.    Tujuan Laporan Keuangan

Menurut Kieso (2010:35) tujuan laporan keuangan adalah untuk memberikan informasi keuangan yang dapat dipercaya mengenai aktiva dan kewajiban serta modal suatu perusahaan, untuk membantu para pemakai laporan dalam menaksir potensi perusahaan dalam menghasilkan laba, untuk memberikan informasi penting lainnya, seperti informasi mengenai aktifitas pembiayaan dan investasi, untuk mengungkapkan sejauh mungkin informasi lain yang berhubungan dengan laporan keuangan yang relepan untuk kebutuhan pamaki laporan, seperti informasi mengenai kebijakan akuntansi yang di anut oleh perusahaan. Laporan keuangan lahir melalui sistem akuntansi, proses akuntansi, siklus akuntansi, siklus atau prosedur akuntansi. Proses lahirnya laporan keuangan di mulai dari adanya transaksi sebagai input sampai akhir laporan keuangan sebagai output.

 

 

2.1.9.                    Perbedaan Penyajian Laporan Keuangan PSAK No 27 dengan SAK ETAP

TABEL. 2.1

PERBEDAAN PSAK NO 27 DAN PSAK ETAP

No

Elemen

PSAK NO 27

SAK ETAP

1

Penyajian Laporan Keuangan

•           Laporan posisi keuangan

•           Informasi yang disajikan dalam laporan posisi keuangan

•           Pembedaan asset lancar dan tidak lancar dan laibilitas jangka pendek dan j angka panj ang

•           Aset lancar

•           Laibilitas j angka pendek

•           Informasi yang disajikan dalam laporan posisi keuangan atau catatan atas laporan keuangan

Sama dengan

PSAK, kecuali informasi yang disajikan dalam neraca, yang menghilangkan pos:

•         Aset keuangan

•         Properti investasi yang diukur pada nilai wajar Aset biolojik yang diukur pada biaya perolehan dan nilai wajar Kewajiban berbungajangka

panj ang

•         Aset dan kewajiban pajak tangguhan

•         Kepentingan nonpengendalian

2

Laporan Laba

Rugi

o Informasi yang disajikan dalam laporan Laba Rugi Komprehensif o Laba rugi selama periode o Pendapatan komprehensif lain selama periode o Informasi yang disajikan dalam laporan laba rugi komprehensif atau catatan atas laporan keuangan

istilah laporan laba rugi komprehensif, SAK ETAP menggunakan istilah laporan laba rugi.

 

 

 

 

3

Penyajian Perubahan Ekuitas

 

Sama dengan

PSAK, kecuali untuk beberapa hal yang terkait pendapatan komprehensif lain.

4

Catatan Atas Laporan Keuangan

•        Catatan atas laporan keuangan

•        Struktur

•        Pengungkapan kebijakan Akuntansi

•        Sumber estimasi ketidakpastian

•        Pengungkapan lain

Sama dengan

PSAK, kecuali pengungkapan modal.

5

Laporan Arus Kas

a.     Arus kas aktivitas operasi: metode langsung dan tidak langsung

b.     Arus kas aktivitas investasi

c.     Arus kas aktivitas pendanaan

d.    Arus kas mata uang asing

e.     Arus kas bunga dan dividen, pajak penghasilan, transaksi non-kas

Sama dengan

PSAK kecuali:

•         Arus kas aktivitas operasi: metode tidak langsung

•         Arus kas mata uang asing, tidak diatur.

6

Tanggal Efektif

 

Berlaku efektif

untuk laporan keuangan

yang dimulai pada tanggal

1 Januari 2011, penerapan dini 1 Januari 2010

 

(Sumber : http://keuanganlsm.com/perbedaan-sak-etap-dengan-psak)

 

 

 

 

2.1.10.      Penyajian Laporan Keuangan SAK ETAP

Menurut SAK ETAP bab 3 paragraf ke 12 menyebutkan, ”laporan keuangan entitas” meliputi:

a.      Neraca

b.      Laporan laba rugi

c.       Laporan perubahan ekuitas

-   seluruh perubahan dalam ekuitas

-   perubahan ekuitas selain perubahan yang timbul dari transaksi dengan pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik

d.      Laporan arus kas, dan

e.       Catatan atas laporan keuangan yang berisi ringkasan kebijakan akuntansi yang signifikan dan informasi penjelasan lainnya.

a.       Neraca

Neraca menyajikan asset, kewajiban, dan ekuitas suatu entitas pada suatu tanggal tertentu sampai akhir periode pelaporan. Informasi yang di sajikan dalam neraca minimal mencakup pos-pos berikut:

■                Kas dan setara kas

■                Piutang usaha dan piutang lainnya

■                Persediaan

■                Property investasi

■                Asset tetap

■                Asset tidak berwujud

■                Utang usaha dan utang lainnya

■                Asset dan kewajiban pajak

■                Kewajiban diestimasi

■                Ekuitas

Entitas menyajikan pos-pos, judul dan sub jumlah lainnya dalam neraca jika penyajian seperti itu relavan dalam rangka pemahaman terhadap posisi keuangan entitas. Dengan demikian selain pos-pos diatas, entitas juga boleh menambahkan sub judul lainnya dalam laporan keuangan, terutama bagi industri-industri khusus. Menurut (IAI,2009;30) SAK ETAP tidak menentukan format atau urutan terhadap pos-pos yang akan disajikan, menyediakan daftar pos-pos yang berbeda baik sifat atau fungsinya untuk menjamin penyajian yang ter pisah dalam neraca. Sebagai tambahan:

■       Pos yang terpisah akan dibentuk jika ukuran, sifat, atau fungsi dari pos atau agregasi terhadap pos-pos yang serupa membuat penyajian trpisah menjadi relevan untuk memahami posisi keuangan entitas.

■       Uraian yang di gunakan dan urutan pos-pos atau agregasi terhadap pos-pos yang sejenis mungkin di ubah sesuai dengan sifat entitas dan transaksinya, untuk menyediakan informasi yang relevan dalam rangka memahami posisi keuangn entitas.

Pertimbangan atas pos-pos tambahan yang disajikan secara terpisah berdasarkan pada penilaian:

a.       Sifat dan likuiditas asset

b.      Fungsi asset dalam entitas

c.       Jumlah, sifat dan waktu kewajiban

Entitas mengungkapkan di neraca, subklisifikasi berikut atas pos yang di sajikan:

a.       Kelompok asset tetap

b.      Jumlah piutang usaha, piutang dari pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa, pelunasan di percepat dan jumlah lainnya,

c.       Persediaan yang menunjukan secara terpisah

d.      jumlah dari :

1.      Persedian yang dimiliki untuk dijual dalam kegiatan usaha normal

2.      Persedian dalam proses produksi untuk penjualan tersebut

3.      Bahan baku dan bahan habis pakai yang digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa.

4.      Kewajiban imbalan kerja dan kewajiban diestimasi lainnya.

e.       Kelompok ekuitas, seperti modal di setor, tambahan modal di setor, pendapatan dan beban yang di akui langsung ke ekuitas.

 

 

Nama usaha

Neraca

Untuk periode yang berakhir 31 Desember xxx

AKTIVA

 

PASIVA

 

aktiva lancar

 

kewajiban lancar

 

kas

Xxx

hutang usaha

Xxx

bank

Xxx

hutang bank

Xxx

persediaan barang dagang         xxx

total kewajiban lancar

Xxx

jumlah aktiva lancar

Xxx

 

 

Aktiva tetap berwujud:

 

 

 

Tanah

Xxx

 

 

Gedung

Xxx

Modal

xxx

Akm,peny. Gedung

Xxx

 

 

 

Xxx

 

 

Peralatan

Xxx

 

 

Akm.peny.peralatan

Xxx

 

 

 

Xxx

 

 

Total aktiva

Xxx

Total Pasiva

xxx

 

Gambar 2.1: FORMAT LAPORAN NERACA MENURUT SAK ETAP

 

 

 

 

b.      Laba Rugi

Laporan laba rugi mensyaratkan entitas untuk menyajikan laporan laba rugi untuk suatu periode yang merupakan kinerja keuangan salama periode tersebut. Laporan laba rugi menyajikan penghasilan dan beban entitas untuk suatu periode. Menurut SAK ETAP Laporan laba rugi minimal mencakup pos-pos sebagai berikut:

1.              Pendapatan

2.              Beban keuangan

3.              Bagian laba atau rugi dari investasi yang menggunakan metode ekuitas

4.              Beban pajak

5.              Laba atau rugi netto

Entitas harus menyajikan pos, judul, sub jumlah lainnya pada laporan laba rugi jika penyajian tersebut relevan untuk memahami kinerja keuangan entitas. Entitas tidak boleh menyajikan atau mengungkapkan pos pendapatan dan beban sebagai ” pos luar biasa” baik dalam laporan laba rugi maupun dalam catatan atas laporan keuangan.

 

Nama usaha

LAPORAN LABA RUGI

Untuk periode yang berakhir 31 Desember xxx

1. Pendapatan:

 

Penjualan

Xxx

2. HPP barang

 

Persediaan awal

Xxx

Pembelian

Xxx

Jumlah

Xxx

Persediaan akhir

Xxx

 

 

 

HPP

 

Xxx

Total pendapatan

 

xxx

Biaya-biaya:

Biaya kelancaran usaha

xxx

 

Biaya honorer pengurus

xxx

 

Biaya karyawan

xxx

 

Penyusutan peralatan usaha

xxx

 

Biaya ATK

xxx

 

Biaya RAT

xxx

 

Total biaya

 

xxx

SHU tahun 20XX sblm pajak

 

xxx

pajak yang dikenakan pada koperasi

----- x 25% x 50% -...............

 

( xxx )

SHU tahun 20XX setelah pajak

 

xxx

GAMBAR 2.2: FORMAT LAPORAN LABA RUGI MENURUT SAK ETAP

 

 

 

 

 

c.        Laporan Perubahan Ekuitas

Perubahan ekuitas entitas dua tanggal pelaporan, kecuali perubahan yang di sebabkan transaksi dengan pemegang saham. Mencerminkan jumlah laba dan rugi yang dihasilkan oleh akivitas entitas selama periode berjalan. Namun tidak semua laba rugi tersebut perlu di cerminkan dalam laporan laba rugi. Oleh karena seluruh laba rugi penting untuk diperhitungkan dalam menilai posisi keuangan suatu entitas mensyaratkan suatu laporan tersendiri yang memperlihatkan jumlah laba dan rugi entitas sebagai komponen laporan keuangan.

Menurut SAK ETAP laporan yang disajikan dalam laporan perubahan ekuitas yaitu:

1.        Laba atau rugi untuk periode.

2.        Pendapatan dan beban yang diakui langsung dalam ekuitas.

3.        Untuk setiap komponen ekuitas, pengaruh perubahan kebijakan akuntansi dan koreksi kesalahan yang diakui.

4.       Untuk setiap komponen ekuitas, suatu rekonsiliasi antara jumlah tercatat awal dan akhir periode, diungkapkan secara terpisah perubahan yang berasal dari:

1.            Laba atau rugi

2.             Pendapatan dan beban yang diakui langsung dalam ekuitas

3.      Jumlah investasi, dividend an distribusi lainnya kepemilik ekuitas, yang menunjukkan secara terpisah modal saham, transaksi saham treasusi dan dividen serta distribusi lainnya kepemilik ekuitas, dan perubahan kepemilikan dalam entitas anak yang tidak mengakibatkan kehilangan pengendalian

 

 

Nama usaha

LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS

Untuk periode yang berakhir 31 Desember xxx

Laba yang ditahan 31 Agustus 2010                                        Rp.xxx

Laba bersih bulan September                                                   Rp.xxx

Laba yang ditahan 30 September 2010                                     Rp.xxx

 

GAMBAR 2.3: FORMAT LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS MENURUT

SAK ETAP

 

 

d.      Laporan Arus Kas

Laporan arus kas mensyaratkan bahwa laporan arus kas menyajikan arus kas selama periode akuntansi yang relevan, yang diklasifikasikan menjadi 3 kategori:operasi, investasi, dan pendanaan.

1. Arus kas dari aktifitas operasi.

Aktifitas operasi didefenisikan sebagai aktifitas utama penghasilan pendapatan perusahaan dan aktifitas lain yang bukan merupakan aktifitas investadi atau pendapatan.

Beberapa contoh lazim dari arus kas aktifitas operasi:

 

a.                    Penerimaan kas dari penjualan barang

b.                    Pembayaran kas kepada karyawan

c.                    Pembayran kas kepada pemasok jasa lain

d.      Pembayaran atas restitusi pajak penghasilan kecuali secara khusus merupakan bagian dari aktifitas pendanaan dan investasi

e.       Penerimaan dan pembayaran kontrak yang dimiliki untuk tujuan diperdagangkan atau diperjual belikan.

Standar Akuntansi Keuangan (SAK) mengatur bahwa arus kas dari aktifitas operasi dapat disajikan menggunakan metode langsung atau tidak langsung.

1.      Arus Kas Dari Aktifitas Investasi

Aktifitas investasi adalah perolehan dan pelepasan asset jangka panjang dan investasi nonsetara kas.

2.      Arus Kas Dari Aktifitas Pendanaan

Aktifitas pendanaan adalah aktifitas yang mengakibatkan perubahan besaran dan komposisi modal ekuitas dan pinjaman perusahaan.

 

 

Nama Usaha

LAPORAN ARUS KAS

Untuk periode yang berakhir 31 Desember

xxx

Aktifitas operasi:

 

- penjualan barang dan jasa

xxx

- pembayaran kas kepada pemasok barang dan jasa

xxx

- pembayaran kas kepada dan atas nama karyawan

xxx

- pajak penghasilan

xxx

Aktivitas pendanaan:

 

-penerimaan kas dari penjualan barang

xxx

-pelunasan piutang

xxx

jumlah

xxx

 

GAMBAR 2.4: FORMAT LAPORAN ARUS KAS MENURUT SAK ETAP

 

 

 

 

e.      Catatan Atas Laporan Keuangan

Catatan atas laporan keuangan merupakan bagian yang tidak terpisah dari laporan keuangan. PSAK ETAP mengatur bahwa catatan atas laporan keuangan harus:

a.       Menyajikan informasi tentang dasar akuntansi dan kebijakan akuntansi penting yang diterapkan.

b.      Mengungkapkan informasi yang diwajibkan oleh SAK yang tidak disajikan dibagian lain dari laporan keuangan, dan

c.       Memberikan informasi tambahan yang tidak di sajikan dalam laporan keuangan tetapi diperlukan untuk penyajian yang secara wajar.

PSAK lebih jauh mensyaratkan bahwa catatan atas laporan keuangan disajikan secara sistematis. Selain itu masing-masing pos dalam laporan posisi keuangan, laporan laba rugi

khoperehenship, dan laporan arus kas harus berkaitan dengan informasi yang terdapat dalam catatan atas laporan keuangan. PSAK mengatur bahwa catatan atas laporan keuangan secara umum mencakup hal-hal berikut dan biasanya disajikan secara berurutan:

>        Pernyataaan kepatuahan terhadap SAK, dasar akuntansi

>        Kebijakn akuntansi signifikan

>        Informasi pendukung untuk pos-pos yang disajikan dalam laporan keuangan sesuai urutan penyajian, dan

>        Pengungkapan lainnya:

a.                          Liabilitas kontijensi, ikatan dan pengungkapan keuangan lainnya.

b.        Pengungkapan non keuangan.

 

2.2      Penelitian Sebelumnya

 

TABEL: II

HASIL PENELITIAN SEBELUMNYA

 
    Hubungi Kami
  • Universitas Musi Rawas
  • Jl. Pembangunan Komplek Pemkab. MURA
  • Kel. Air Kuti Kec. Lubuklinggau Timur I
  • Kota Lubuklinggau 31626
  • Telp/Fax. 0733 - 451646
 

Nama

Judul

Hasil

Perbedaan

Anang

Waskito

falikhatun

2009

Analisis 3enerapan tandar kuntansi euangan Slomor       27

entang kuntansi erkoprasian. ^Studi Kasus ada

operasi

egawai

lepublik

ndonesia

Surakarta)

Analisis menunjukan bahwa secara umum KPRI telah menerapkan PSAK 27 dengan baik, hal ini dapat dilihat dari beberapa hal, seperti pada pengakuan pendapatan dan penetapan       beban       koperasi,

perlakuan aktiva, perlakuan kewajiban perlakuan ekuitas serta                 penyajian          laporan

keuangan, walaupun belum menyajikan semua laporan keuangan secara menyeluruh

Menggunakan data kualitaif

Didasarkan            atas

komponen         utama

yaitu reduksi data, penyajian            data,

penarikan kesimpulan Sedangkan penelitian yang saya gunakan yaitu data kuantitatif Membanding PSAK no 27 dengan SAK ETAP

Eri

Kristanto

2012

Analisis

Penerapan

Standar

Akuntansi

Keuangan

Koperasi

Ditinjau

Berdasarkan

Standar

Akuntansi

Keuangan

Entitas

Tanpa

Akuntabilita s          Publik

(SAK

ETAP)

(studi kasus

pada

koperasi

pemko

tebing

tinggi)

Persepsi koperasi pemko tebing tinggi         mengenai         standar

akuntansi keuangan untuk entitas tanpa kauntabilitas publik (SAK ETAP) ternyata masih kurang. Dalam penyusunan laporan keuangan belum sepenuhnya mematuhi dan belum sesuai dengan SAK ETAP. Koperasi pemko tebing tinggi hanya membuat laporan neraca dan laporan laba/rugi, kendala yang dihadapi oleh koperasi pemko tebing tinggi dalam menyusun laporan keuangan yaitu karena kurangnya pengetahuan secara teknis                        dalam                 penyusunan

laporan keuangan.

Menggunakan         data

kuantitatif

Hannya menganalis pada standar akuntansi keuangan ETAP Sedangkan penelitian yang saya gunakan yaitu data kuantitatif Membanding PSAK no 27 dengan SAK ETAP

Djumiko

Adi

Penerapan

Standar

Hasil penelitian menemukan bahwa terdapat enam manfaat